Strategi Jitu Agar UMKM Tetap Bertahan di Tengah Inflasi

Tips Bisnis

| Thu, 20 February 2025, 11:16
Tips Bisnis
gania
5 min

Tantangan besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) muncul seiring dengan lonjakan harga bahan baku dan biaya operasional. Saat inflasi melanda, daya beli masyarakat biasanya menurun, yang memaksa bisnis kecil untuk mencari cara agar bisa terus beroperasi. Tanpa strategi yang tepat, UMKM bisa terpuruk. Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk melakukan penyesuaian yang mampu mengurangi dampak inflasi, menjaga stabilitas keuangan, dan memastikan kelangsungan usaha. 

 

Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu, yang menyebabkan daya beli masyarakat berkurang. Fenomena ini sering kali terjadi akibat sejumlah faktor yang saling berkaitan, salah satunya adalah peningkatan biaya produksi, baik itu bahan baku maupun tenaga kerja, yang menjadi pemicu utama inflasi.

Ketika biaya produksi naik, produsen cenderung menaikkan harga jual produk untuk menutup biaya tambahan tersebut. Di sisi lain, permintaan yang meningkat secara signifikan juga dapat menyebabkan inflasi, di mana konsumsi masyarakat melebihi kapasitas produksi yang ada. Kebijakan moneter yang diterapkan oleh pemerintah atau bank sentral pun turut berpengaruh pada inflasi. Misalnya, peningkatan suku bunga untuk menekan laju inflasi dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan menambah biaya pinjaman bagi para pengusaha. 

Bagi UMKM, dampak inflasi sangat signifikan karena keterbatasan modal yang dimiliki oleh banyak pelaku usaha kecil. Ketika harga bahan baku meningkat, sementara kemampuan untuk menyesuaikan harga jual terbatas karena daya beli konsumen yang menurun, banyak UMKM yang menghadapi kesulitan dalam mempertahankan margin keuntungan. Tanpa strategi yang tepat, inflasi dapat menyebabkan banyak bisnis kecil gulung tikar. 

 

Dampak Inflasi bagi UMKM

Inflasi memengaruhi banyak aspek dalam operasional UMKM. Salah satu dampaknya adalah kenaikan harga bahan baku yang secara langsung meningkatkan biaya produksi. Dalam kondisi ini, pengusaha dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga untuk menjaga margin atau mempertahankan harga agar tetap kompetitif, sementara daya beli konsumen melemah selama inflasi.

Selain itu, inflasi juga memengaruhi akses terhadap modal. Ketika suku bunga meningkat, biaya untuk memperoleh pinjaman menjadi lebih tinggi, sehingga UMKM yang mengandalkan pinjaman untuk mengembangkan usaha atau menjaga kelangsungan operasional akan menghadapi kesulitan lebih besar. Lembaga keuangan cenderung lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman selama periode inflasi yang tinggi, yang membuat akses terhadap dana menjadi terbatas. 

Perubahan perilaku konsumen selama inflasi juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Konsumen cenderung mengurangi pengeluaran untuk barang atau jasa yang bukan kebutuhan utama. Apabila produk yang ditawarkan oleh UMKM termasuk dalam kategori non-esensial, penurunan permintaan dapat terjadi secara signifikan, yang berdampak pada omzet dan kelangsungan bisnis. 

 

Strategi UMKM Agar Tetap Bertahan di Tengah Inflasi

Melihat inflasi yang cukup besar, pelaku UMKM harus mampu merumuskan strategi yang matang untuk menghadapinya. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, strategi yang tepat menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan usaha. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh UMKM untuk tetap bertahan: 

  1. Efisiensi Biaya Operasional
    Efisiensi biaya menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan operasional di tengah inflasi. Pengurangan pengeluaran yang tidak mendesak harus dilakukan tanpa mengorbankan kualitas produk atau layanan. Teknologi digital hadir sebagai alat yang dapat membantu mengurangi biaya operasional. Misalnya, penggunaan software untuk pencatatan keuangan, manajemen inventaris, atau bahkan pemasaran dapat menghemat banyak biaya. Proses yang sebelumnya memerlukan banyak tenaga kerja dapat diotomatisasi, mengurangi ketergantungan pada biaya tenaga kerja yang lebih tinggi. 
     
  2. Diversifikasi Produk atau Layanan
    Diversifikasi produk adalah langkah yang dapat membantu UMKM untuk menjangkau lebih banyak segmen pasar. Diversifikasi juga memberikan perlindungan dari ketergantungan terhadap satu produk, yang dapat menurunkan risiko bisnis saat permintaan untuk produk tertentu. Ketika harga bahan baku meningkat, menambah variasi produk yang lebih terjangkau dapat membantu menarik konsumen yang lebih sensitif terhadap harga. Misalnya, jika sebelumnya produk premium menjadi fokus, menawarkan produk dengan harga lebih rendah atau memilih bahan baku alternatif yang lebih murah namun tetap berkualitas dapat membantu menarik pelanggan dari kalangan yang lebih luas. 
     
  3. Menjaga Hubungan Baik dengan Pemasok
    Hubungan bersama pemasok yang terjaga dengan baik berperan penting dalam kondisi inflasi. Negosiasi bahan baku yang lebih baik bisa dilakukan untuk mendapatkan penawaran yang lebih kompetitif. Kerja sama yang baik dengan pemasok juga dapat memastikan ketersediaan bahan baku yang cukup meskipun kondisi pasar sedang tidak stabil. Pemasok yang telah bekerja sama dalam jangka panjang mungkin lebih terbuka untuk memberikan diskon atau harga khusus. Selain itu, pembelian dalam jumlah besar dapat memberikan keuntungan harga yang lebih stabil. 
     
  4. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan
    Untuk tetap bertahan dalam situasi yang penuh ketidakpastian, mempertahankan pelanggan yang sudah ada jauh lebih efektif dibandingkan mencari pelanggan baru. Pelanggan yang sudah mengenal produk dan pelayanan yang diberikan lebih mungkin untuk tetap membeli, meskipun harga sedikit naik. Selain itu, meningkatkan kualitas pelayanan atau memberikan pengalaman belanja yang lebih baik juga dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk tetap berbelanja, meskipun kondisi ekonomi kurang mendukung. Program loyalitas yang menarik, seperti diskon eksklusif atau hadiah bagi pelanggan setia, dapat meningkatkan loyalitas mereka. 
     
  5. Manfaatkan Teknologi Digital untuk Pemasaran
    Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi biaya pemasaran adalah dengan memanfaatkan platform digital. Pemasaran melalui media sosial, marketplace, dan website memungkinkan bisnis kecil menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa biaya besar. Penggunaan teknologi digital juga memungkinkan pelaku usaha untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan, memperkuat hubungan dan meningkatkan kepercayaan terhadap produk. Melalui pemasaran digital, UMKM dapat menargetkan konsumen dengan lebih tepat menggunakan analitik yang disediakan oleh platform-platform tersebut. Kampanye digital yang kreatif dapat meningkatkan kesadaran merek tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk iklan konvensional. 
     
  6. Mencari Alternatif Pendanaan
    Mengandalkan pinjaman dari bank mungkin bukan pilihan terbaik selama inflasi tinggi karena suku bunga yang lebih tinggi. Oleh karena itu, UMKM dapat mencari alternatif pendanaan yang lebih fleksibel, seperti crowdfunding atau pendanaan yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Selain itu, mencari investor yang bersedia menanamkan modal dapat menjadi cara untuk mendapatkan dana tanpa harus bergantung pada bank. Pemerintah dan lembaga swasta juga seringkali menawarkan program bantuan atau hibah yang dapat dimanfaatkan oleh UMKM untuk mengatasi masalah pendanaan.
     
  7. Sesuaikan Strategi Harga
    Penyesuaian harga yang tepat sangat penting agar bisnis tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan. Peningkatan harga yang terlalu drastis dapat membuat konsumen berpaling ke pesaing. Namun, di sisi lain tidak menaikkan harga sama sekali juga dapat menyebabkan kerugian. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah menawarkan paket bundling atau promosi khusus yang memungkinkan pelanggan merasa mendapatkan nilai lebih meskipun harga produk sedikit lebih tinggi. Selain itu, riset pasar yang cermat mengenai harga yang diterima oleh pelanggan juga penting untuk memastikan bahwa harga yang ditetapkan tetap kompetitif. 
     
  8. Meningkatkan Efisiensi Produksi
    Meningkatkan efisiensi dalam proses produksi tidak hanya dapat mengurangi biaya, tetapi juga meningkatkan output tanpa menambah sumber daya. Salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan penggunaan bahan baku. Penggunaan bahan baku alternatif yang lebih murah namun tetap berkualitas dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi. Selain itu, investasi pada peralatan yang lebih efisien atau penerapan metode produksi yang lebih hemat energi dapat membantu menekan biaya operasional. Proses produksi yang lebih efisien akan memungkinkan bisnis untuk tetap bersaing meskipun harga bahan baku mengalami kenaikan. 
     

Inflasi memang memberikan tantangan besar bagi UMKM, tetapi bukan berarti bisnis harus berhenti berkembang. Strategi yang tepat, seperti efisiensi biaya, diversifikasi produk, peningkatan loyalitas pelanggan, dan pemanfaatan teknologi, dapat membantu UMKM tetap bertahan. Adaptasi yang cepat terhadap kondisi pasar menjadi faktor kunci agar bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap berdaya saing di tengah tantangan ekonomi. Menggunakan strategi yang tepat akan membantu pelaku UMKM untuk mengurangi dampak inflasi dan menjaga keberlangsungan usaha dalam situasi yang penuh ketidakpastian. 

gania

Penulis Blog Ketoko

Artikel Terbaru

Inspirasi Activity

Mengapa Ketoko.co.id adalah Pilihan Terbaik untuk Solusi Aplikasi Kasir Online Anda

Kemajuan teknologi telah menjadi landasan utama yang mengubah sistem operasional bisnis di era modern. Perkembangan teknologi yang semakin cepat telah mengubah cara perusahaan beroperasi dan berinteraksi dengan pelanggan. Tidak hanya sebagai ala...
gania
5 min

Tips Bisnis

Cara Memulai Bisnis Lewat Digital Marketing

Pemanfaatan digital marketing bukanlah sekadar respons terhadap kemajuan teknologi yang terus berkembang, tetapi juga merupakan langkah strategis yang sangat relevan dalam memasarkan bisnis di era ini. Digital marketing saat ini merupakan cara t...
gania
5 min

Tips Bisnis

Mengenal Sistem Point of Sales: Mengapa Harus Point of Sales?

Apa itu point of sales?Sesuai dengan namanya, Point of Sales (Titik Penjualan) adalah titik di mana proses transaksi jual-beli sebuah barang telah selesai. Pada Point of Sales, pedagang atau pemilik bisnis menghitung jumlah pembayaran, menjumlahkan k...
gania
5 min